Keto Diet dan Daya Tahan: Benarkah Pembakaran Lemak adalah Kunci Dominasi untuk Atlet Ultra?
Diet ketogenik atau Keto Diet, yang dicirikan dengan asupan karbohidrat sangat rendah, protein sedang, dan lemak tinggi, telah menjadi perdebatan sengit dalam komunitas olahraga ketahanan (endurance), terutama di kalangan atlet ultra-maraton. Argumen utama yang mendukung diet ini adalah kemampuannya untuk menginduksi keadaan ketosis, memaksa tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi utama alih-alih glukosa. Dalam konteks olahraga ketahanan ekstrem, seperti lari ultra 100 mil atau triatlon jarak jauh, ide untuk memaksimalkan Pembakaran Lemak sebagai bahan bakar utama terdengar sangat menjanjikan. Teorinya, dengan mengakses cadangan lemak tubuh yang hampir tidak terbatas (bahkan pada atlet kurus), atlet dapat menghindari hitting the wall atau kehabisan glikogen yang umum terjadi. Kemampuan Pembakaran Lemak yang efisien ini dianggap sebagai Kunci Dominasi dalam menjaga energi tetap stabil selama durasi perlombaan yang sangat panjang.
Keunggulan Fisiologis: Cadangan Energi Tak Terbatas
Tubuh manusia, bahkan atlet yang sangat kurus, memiliki cadangan lemak yang jauh lebih besar daripada cadangan karbohidrat (glikogen) yang tersimpan. Rata-rata atlet hanya mampu menyimpan glikogen yang cukup untuk sekitar 90 hingga 120 menit aktivitas intensitas tinggi. Sebaliknya, cadangan lemak tubuh dapat mendukung aktivitas selama berjam-jam, bahkan berhari-hari.
Ketika seorang atlet ultra berhasil beradaptasi dengan Keto Diet (proses yang dikenal sebagai keto-adaptation atau fat-adaptation), tubuh mereka menjadi sangat efisien dalam memecah lemak (trigliserida) menjadi keton untuk digunakan sebagai bahan bakar. Proses ini secara efektif “menyelamatkan” cadangan glikogen untuk ledakan energi singkat ketika dibutuhkan. Penelitian oleh Dr. Jeff Volek dan timnya, yang dipresentasikan pada konferensi Nutritional Science di Denver, Colorado, pada April 2025, menunjukkan bahwa atlet ultra yang teradaptasi lemak memiliki laju oksidasi lemak (laju Pembakaran Lemak) yang dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan atlet yang mengonsumsi diet tinggi karbohidrat saat berlari pada intensitas sedang.
Tantangan dan Kinerja Intensitas Tinggi
Meskipun efisiensi Pembakaran Lemak sangat menguntungkan untuk aktivitas berdurasi sangat panjang dan berintensitas rendah hingga sedang (seperti lari ultra pada kecepatan 50-70% dari Denyut Jantung Maksimum), tantangan muncul saat intensitas latihan meningkat.
Karbohidrat (glukosa) adalah sumber energi yang jauh lebih cepat dan lebih mudah diakses oleh tubuh, yang sangat penting untuk aktivitas intensitas tinggi atau sprint mendadak. Pada intensitas tinggi, sistem energi tubuh beralih ke jalur glikolitik yang membutuhkan karbohidrat. Atlet yang menjalani Keto Diet mungkin merasa sulit untuk mencapai atau mempertahankan performa puncak saat diperlukan akselerasi mendadak.
Proses transisi ke Keto Diet juga merupakan sebuah Tantangan dan Solusi tersendiri, yang sering disebut keto-flu, di mana atlet mengalami kelelahan, pusing, dan penurunan performa sementara selama beberapa minggu. Selain itu, Petugas Medis Tim Lari Ultra, Suster Maria Utami, yang bertugas di posko bantuan di Bali Ultramarathon 2029 pada Pukul 02:00 pagi, Minggu, 27 Juli 2029, mengingatkan bahwa atlet Keto harus sangat berhati-hati dengan asupan elektrolit (natrium dan kalium) karena diet rendah karbohidrat cenderung meningkatkan kehilangan air dan mineral.
Meskipun Keto Diet menjanjikan Kunci Dominasi energi tak terbatas, banyak atlet ultra elit modern memilih pendekatan Hybrid atau Cyclical Ketogenic Diet, di mana mereka mempertahankan fat-adaptation sebagian besar waktu, tetapi mengonsumsi karbohidrat secara strategis sebelum atau selama perlombaan untuk mendukung kebutuhan intensitas tinggi.